Hai sobat aku mau post cerpen pertama di blog ini, cerpen ini juga merupakan cerpen pertama yang aku buat.
selamat membaca !!!
BINTANG
By:RENI
Aku
masih terduduk sendiri di ujung kasur di
ruangan kamar ini,catatan itu aku tak mau melihatnnya lagi. Mata lembabku masih
tertuju ke sebrang jendela kamarku berharap jendela di sebrang itu akan terbuka
seperti biasanya.
***
Bintang berada dua atau tiga langkah di belakang
Alan, sudah menjadi satu kesenangan baginyaberjalan seperti ini. Melihat
punggung nya dari belakang tanpa Alan
tau. Alan berjalan ceria didepannya,
walau Bintang tak
melihat raut wajahnya,
tapi sudah bisa
di tebak bertapa
riang gembiranya Alan kali ini. Bertapa tidak Malam ini ia mendapatkan
undangan makan malam dari Soraya, makan malam sebagi perayaan ulang tahunnya
yang ke 20 tahun.
Malam nanti mungkin akan menjadi malam terbaik yang
di miliki Alan dalam hidupnya karena ia berencana akan mengungkapkan perasaan
nya pada Soraya, perasaan bertapa ia sangat menyukai soraya selama ini,
semenjak hari pertama bertemu dengannya. Soraya benar-benar membuat Alan jatuh
hati, membuat Alan selalu tak mampu berpaling pada siapapun. Dan semenjak itu
Alan selalu berusaha mendekati Raya dan memberikan seluruh perhatian untuk nya.
Usaha Alan
sepertinya akan berbuah manis, bisa di lihat dengan apa yang di lakukannya
selama ini soraya akhirnya tampak luluh oleh laki-laki itu.
“hah
jalan mu seperti siput..!! satu langkah saja seperti satu jam.” Desah Alan
menghardik Bintang. melihat sahabatnya itu berjalan dengan pelan.
“langkah
mu saja yang terlalu cepat, aku capek mau istirahat” Bintang menghela nafas
berat, ia menghentikan langkahnya dan duduk.
“keburu
sore bintang. Nanti tokonya keburu tutup. Dan aku gak mau buat Soraya kecewa di
hari ulang tahunnya nanti” desak Alan.
Satu perasaan sesak menusuk dada Bintang. Bosan
rasanya telinga Bintang selalu di jejali namaSoraya, Soraya dan selalu Soraya.
Bertapa Alan selalu mengutamakan soraya lebih dari siapapun, bertapa Alan
selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk soraya kapanpun itu.
Tapi sudah terbiasa baginya dengan semua hal yang
bersangkutan dengan soraya. Bertapa telinganya tak pernah absen mendengar
celotehan Alan tentang soraya setiap waktu. Soraya yang cantiknya seperti
bidadari, soraya yang pintar, soraya yang selalu membuat Alan berdebar-debar.
Soraya yang setiap hari ia pikirkan. Dan ya soraya dan soraya yang selalu ada
dalam setiap helaan nafas Alan, tanpa ia sadari satu sosok di dekatnya
tersakiti.
“abis
beli kue, kita langsung beli kadonya ya,!! tapi kamu tau kan apa yang paling di
sukai Soraya, kamu kan teman sepakultas dengannya teman dekatnya di
kampus.” Seru Alan.
“mana
aku tau, kenapa gak tanya langsung aja sama raya nya.” jawab Bintang dengan
nada memalas, sebenarnya tak ingin ia membantu Alan lagi, apalagi jika
berkaitan dengan Soraya, tapi itu tak mungkin Alan sahabat terbaiknya tak
mungkin ia mengecewakan sahabatnya itu.
“kalo
Tanya langsung bukan kejutan namanya.” Alan kembali melanjutkan langkahnya.
Bintang akhirnya kembali membuntutinya.
“semua
wanita itu suka tas mahal dan sepatu mahal, raya juga pasti.” Ucap bintang,
mengandai andai, tapi itu juga
berdasarkan pakta di
sekelilingnya,bukankah memang benar
wanita seperti itu, terkecuali dirinya.bagaimana tidak, dia
seorang wanita tomboy yang tidak tau apa-apa tentang hal-hal semacam itu.
“ah benar
sepatu, kita harus
beli sepatu” tuntas
alan. Wajah nya
berbinar seperti ia
telah menemukan sesuatu yang benar ia lakukan.
“kamu
tau kan sepatu dan tas yang bagus itu seperti apa?” Tanyanya lagi Bintang hanya
menggelengkan kepalanya
“ah
kamu kan bukan wanita, mana tau hal hal semacam itu” ejek Alan dnegan satu
senyuman ejekan nya.
Alan selalu mengolok olok ketomboyan Bintang. Setiap
hari ia selalu mengomel padanya, mengatainyahal hal aneh. Bintang itu bukan
seorang wanita dia seorang laki-laki lah, bintang yang tak bisa berdandan lah,
dan semua hal yang di lakukan bintang kadang menjadi bahan lelucun Alan. Tapi bukannya
Marah, Bintang menganggapnya sebagai hiburan tersendiri untuknya, karena
semakin alan mengolok olok dirinya, semakin Bintang menyukainya.
“haha terima
kasih pujiannya, aish”
hardik Bintang, raut
wajah marahnya terlihat
tapi sejurus kemudian satu senyuman
mengambang di wajahnya.
Kembali dadanya terasa sesak, tapi kali ini bukan
karena sesak karena soraya, tapi benar benar sesak dan sesak ini terus
menngerogotinya dan menyakitinya.
****
Malam ini bertabur bintang,malam yang cerah se cerah
raut wajah Alan. Bintang melihat keceriaan itu terpancar dari raut wajah Alan,
manakala ia menatapnya di balik jendela kamarnya. Ia melihat Alan tampak sangat
antusias untuk melewati malam ini. Bahkan tadi sore dia sengaja membeli baju baru,
setelan ke pesta malam yang mahal dan tampak mewah. Sengaja ia beli demi
menghadiri makan malam ini. Tatapan mata bintang kepergok Alan. Di sebrang
jendela nya, Alan menatap Bintang. Yang baru ia tau bintang memperhatikannya
sedari tadi.
“mau
bantu aku gak?” satu tulisan di kertas aln perlihatkan pada bintang.
“ogah..!!
emang aku pembantu kamu!!” jawab Bintang dengan hal yang sama.
“ayolah,,Bintang
kan baik” di ujung jendela sana Alan kembali memperlihatkan tulisan tangannya
lagi.
“bantu
aku pasangin dasi, please!!!” lanjutnya
Senyuman tipis akhirnya mengembang di bibirnya,
bintak selalu tak bisa mengelak jika berkaitan dengan Alan, ia selalu bisa
mengalah terhadapnya. Beberapa detik kemudian Bintang berada di kamar Alan.
Alan tersenyum memalas. Seperti seorang anak burung yang berharap induknya
menyuapinya makan. Alan sedikit bermanja-manja,Bintang tau Alan selalu akan
seprti itu jika ia menginginkan sesuatu.
“hey
hey, lihat yang akan berkencan ini, memasang dasi saja tidak bisa, sepertinya
soraya tidak akan menyukainya” cerocos Bintang, tangannya mengacak acak rambut
Alan dengan kasar.
“aish,
jangan lakukan itu, kamu tau berapa lama aku menata rambutku agar tampak
seperti tadi, dansekarang kamu mengacaukannya.” Ketus Alan, ia tampak marah dengan
apa yang di lakukan Bintang kepadanya.
Bintang
bukannya merasa bersalah dia malah tersenyum geli. Bagimana tidak jika Alan marah
bukannya menaktkah malah terlihat konyol untuknya.
“ya
deh maaf, tenang.. untuk apa punya sahabat jika tidak bisa membantu.. akan ku
perbaiki” Bintang mulai menata
kembali rambut Alan,
menata sesuai yang di inginkan
Alan.
Sebenarnya untuknya di tata
ataupun tidak bagi Bintang sama saja, Alan terlihat tampan. Ketika meihat wajah
Alan sedekat itu,perasaan itu kembali datang. Saat mata mereka saling bertemu untuk
menatap satu sama lain perasaan ini malah semakin terasa menyakitkan. Bintang
memalingkan wajahnya, mengalihkan pandangan ke rambut yang di tatanya. Jika terus
berlanjut tatapan itu makan akan terlihat memalukan karena sudah pasti matanya
akan berkaca kaca.
“tentu”
jawab Alan datar.
“seberarti
apa?” ualng Tanya nya.
“ya
kamu tau sendiri kan, dia itu sangat berarti. She is my everything to me”
kembali ucapnya datar. Jawaban itu sebenarnya bukan yang di harapkan Bintang.
Jawaban itu malah terasa menyakitkan untuknya.
“oh,,”
hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Bintang memasangkan dasi untuk alan, setaunya selama
ini Alan memang seperti itu, tak pernah bisa memasang dasi sendiri,entah
mengapa. Itu lah yang menyebabkan dia tak pernah mempunyai satu dasipun selama
ini, bahkan semenjak SMA dia tak pernah memakai barang itu, tapi kali ini demi seseorang dia rela merubah kebiasaannya. Dan itu cukup
membuat Bintang merasa sakit.
“aku
pasti orang pertama yang menyisir rambut dan memasangkan dasimu kan?” ucap
bintang.
“ya,pertama
dan terakhir kalinya. Karena kelak kamu tidak usah melakukannya lagi. Karena
soraya yang akan melakukannya.” Jawab Alan dengan senyum yang mengembang di
wajah tampannya. Seperti ia sangat-sangat bahagia membayangkan hal itu terjadi
kelak. Bintang tersenyum hambar.
“ya
jadi ingat ingat lah, hari ini aku merapihkan rambut dan dasimu untuk pertama
dan terakhir kalinya,ingat itu karena suatu saat kamu akan merindukan hal ini”
ucap Bintang, seraya menyentuh hidung mancung Alan dengan kasar.dan membuat
hidung nya terlihat sedikit memerah.
“aish,
ahh.. kamu tau bertapa sakitnya ini, ah aku akan terlihat konyol di depan
Soraya jika hidungku terus memerah seperti ini. Dasar kamu,, jangan harap aku
akan mengenang hal ini” alan terlihat sediit kesakitan dengan apa yang di
dapatkannya dari Bintang.
Bintang
kembali tertawa.
“ishh,,ya
ya ya,, soraya soraya soraya, sanah temui soraya, sebelum aku mengacak ngacak
rambutmu kembali.” Ucap bintang dengan nada keras.
Satu
menit kemudian dia berada kembali di kamar nya, di sebrang jendela kamar Alan. Alan
terlihat ketus, tapi suasana ceria kembali menyambanginya ketika ia memasuki
mobil merahnya malam itu.
Bintang
melihatmya, dan tiba-tiba kembali dadanya terasa sesak, lebih sakit dari
bisanya nya, rasa sakit untuk yang terakhir kalinya.
****
Searasa
mimpi untuknya, berada
berdua dengan Soraya
malam itu, seakan
mimpi nya menjadi kenyataan sama seperti yang di
bayangkannya selama ini. Soraya memilih tempat makan yang sangat cocok untuk
mereka berdua restaurant prancis kesukaan mereka. Malam terasa sangat hangat
dan sangat indah, seindah gaun yang di kenakan soraya malam itu, mereka tampak
layaknya seorang pasangan kekasih malam itu. Obrolan hangat dan ringan
membarengi mereka berdua, tak jarang gelak tawa terdengar malam itu.
Suasana romantis menyelimuti mereka berdua, manakala
Alan membawa cake ulang tahun kesuakaan soraya di barengi kado cantik yang ia
dapatkan dari Alan, kalung terindah yang pernah ia lihat. Alan senang tak salah
ia menuruti saran Bintang yang menyuruhnya memberikan kalung bukan sepatu, karena
menurutnya ini akan membuat wanita lebih tersentuh dan sepertinya memang benar.
Keberanian Alan semakin meningkat, malam ini sepertinya akan menjadi malam yang
tak akan pernah terlupakan untuknya seumur hidup. Bintang pernah mengatakan
padanya
“hal yang
ingin aku dapatkan
ketika seorang laki-laki
memintaku untuk jadi
pacarnya. Dia mengucapkan nya
dengan lembut dan romantic. Memintaku dengan setulus hatinya, menatapku dengan sungguh
sungguh seakan dia benar-benar menginginkan ku dan tak ingin kehilangan diriku”
seperti
itu yang akan aku
lakukan pada soraya
juga malam ini,karena
aku tau wanita
kebanyakan memang menginginkan
hal itu, tak terkecuali dengan Soraya.
“ada
hal yang ingin aku katakan” ucapku dengan nada terbata bata.
Mata
soraya berbinar-binar, dan ini membuatku semakin menetapkan keyakinanku.
“selama
ini aku..” deringan telpon genggam mengejutkannya, dan mengganggunya. Alan
tampak kesal, layar telpon genggam menunjukan satu panggilan masuk untuk nya
dari Bintang.
“ah
bintang, ku mohon jnagan kali ini” ucapnya dalam hati. Sedetik kemudian Alan menekan
tombol cancel tak ingin dulu ia mengangkatnya. Tapi beberapa detik kemudian
telpon genggamnya kembali bordering, dan membuat alan sangat marah. Dengan
sangat berat dia akan menjawabnya.
“bintang
jangan dulu…” belum ia menyelesaikan ucapanya. Mulutnya malah ternganga di
ujung telpon itu tak mungkin benar.
****
Butiran air mata deras meluncur di pipinya, butiran
air mata tanda kepekaan perasaannya. Ia duduk di kamar ini sendiri dengan
segudang rasa sakit di dadanya. Ia menatap lekat ke jendela sebrang kamarnya
yang sampai saat ini tak terbuka lagi. Mengapa rasanya sangat menyakitkan
melihat jendela itu tertutup. Mengapa rasanya menyakitkan melihat di balik jendela
itu ia tak ada.
Biasanya ia selalu melihat seseorang di balik
jendela itu, seseorang yang sedang tersenyum padanya, seseorang yang
sedang menyisir rambutnya,
seseorang yang sedang
memtik gitar kesayangannya.seseorang
dengan kelakuan tomboynya.
Kata-kata itu masih terngiang ngiang di telinga
kanan nya. Setelah pulang dari rumah kamu,Penyakit Jantung Bintang tiba tiba kumat
Al, dan Bintang Meninggal sebelum di bawa ke rumah sakit
Alan seakan tidak percaya dengan hal itu, begitu
hancurnya ketia ia mendengar berita mengerikan itu. Tak mungkin Bintang
meninggalkannya secepat itu. Banyak hal yang belum mereka lakukan banyak hal
yang ingin Alan perbuat untuk Bintang seperti Bintang yang selalu memberinya
banyak hal.
Alan teringat malam terakhir bersamanya, malam
dimana untuk yang pertama dan terakhir kalinya Bintang memakaikan dasi dan
merapihkan rambutnya. Seakan memang salam perpisahaan untuk Alan. Seperti
Bintang memang akan segera larut dalam pelukan keabadian. Malam itu akan
menjadi malam yang akan selalu Alan ingat di sepanjang sisa umurnya.
Buku harian yang Alan terima tergeletak di atas
tempat tidurnya. Ia tak ingin membacanya lagi, terlalu menyakitkan untuk melanjutkan
membaca buku harian itu. Buku harian bintang yang diam-diam menjadi curahan
semua isi hatinya, hembusan angina membuka lembaran lembaran itu, lembaran
penuh kenangan dan memori-memori indah di masa lalu, lembaran yang menjadi
saksi rahasia Bintang selama ini yang tak pernah dunia tau.
Menyakitkan memang menyukainya
tanpa ia ketahui. Aku harus bagaimana? Haruskah aku mengatakan pada Alan kalau
aku menyukainya sejak lama, sejak kita masih di bangku SMP dulu, jauh sebelum
Alan bertemu wanita cantik itu. Tapi apa yang bisa ku perbuat,kalaupun aku
mengatakannya hanya akan membuat semuanya menjadi rumit, karena ia tak akan
menyukaiku dan persahabatan kami akan hancur.
Sadarkah Al..!! apa yang selama ini
ku berbuat semata-mata karena aku menyayangimu lebih dari seorang sahabat,
lebih dari sekedar rasa sayang yang biasnya. Tapi semuanya seperti sangat
mustahil untuk kita bisa selalu bersama, kamu menganggap dia lebih berharga dariku.
Menganggap ia segalanya untuk mu. Dan
siapa aku? Hanya
seorang sahabat yang
tak kamu lihat
sebagai perempuan sesungguhnya.
Aku wanita tomboy yang tak akan mendapatkan ruang khusus di hatimu.
Dan yang lebih menyakitkan penyakit
ini lebih menyakitiku, walaupun kau menyukaiku tak mungkin aku bisa bersama mu.
Penyakit ini kapanpun bisa kumat dan merenggut nyawaku. Dan pada akhirnya kamu
tak akan bersamaku.
Dia yang pantas untukmu, ya seperti
yang kamu bilang, hanya dia satu=satu orang terbaik di hidupmu, orang tercantik
di hidupmu dan orang yang akan mendampingimu kelak.
Tapi kamu
orang terbaik di
hidupku selama ini,
selama aku masih bernafas
selama jantung ini berdetak selama mata ini masih bisa
melihat mu.
Kau terindah
Selama
ini Alan hanya di butakan akan cinta nya pada orang lain tanpa ia ketahui sepotong
hati di dekatnya yang selama ini menyanyanginya dengan setulus hati.
“kamu
akan menjadi yang terindah untukku, tak akan aku gantikan dengan siapapun.
Sekalipun itu dengan wanita lain. Kamu memang sudah di sisinya, tapi kasih mu
masih dengan ku. Akan kubalas perasaan mu sebisaku. kamu akan melihatnya disana
kan? bertapa di sini aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabatku. Kamu di
sana mendengarku kan? Dengar kan aku kali ini !! Terima kasih telah menjadi
malaikat kecil ku selama ini, terima kasih telah menjadi Bintang yang selalu
bersinar terang dengan keceriaan mu itu.”
isaknya dalam hati meyakinkan.
Akhirnya
Jendela kamar Bintang kembali terbuka tertiup Angin, walau sosoknya tak lagi di
sana.
Komentar
Posting Komentar